>

Whatsapp Diawasi Kepolisian Secara Intensife

Talkingdata.me - Nah, grup WA WhatsApp mulai hari Ini Intensif diawasi Kepolisian, Informasi ( WA ) semacam Ini yang ditindak oleh Kepolisian. Kali ini Polres Bontang mulai meningkatkan patroli siber di ruang-ruang grup media sosial.

 Kabarnya pihak Kepolisian mulai hari ini sudah aktif melakukan patroli di media sosial seperti grup WA atau WhatsApp. Khususnya jejaring komunikasi Whatsapp ( WA ) yang sudah banyak digunakan para pengguna pecinta media sosial. Pengawasan yang menjadi pengawasan atau sorotan pihak Kepolisian tentu yang mengandung ujaran kebencian atau informasi bohong, hoaks. Akan ditindaklanjuti Kepolisian.

 Hal ini dikatakan Kapolres Bontang melalui Kasubag Humas Polres Bontang, Iptu Suyono mengatakan tren penyebaran informasi palsu hoax, ujaran kebencian dan isu SARA massif beredar di grup WA atau grup WhatsApp ( WA ) "Sekarang lebih banyak informasi hoax berkembang di grup WA atau WhatsApp ketimbang media sosial publik lainnya," ujar Iptu Suyono kepada wartawan, Minggu (20/10/2019).

Iptu Suyono menjelaskan, metode patroli yang dilakukan tak secara acak. • Basri Rase Meminta Jangan Membuat Akun Anonim Kampanye di Media Sosial, Sebar Ujaran Kebencian • Jelang Pelantikan Jokowi 2019, Beredar di WhatsApp Susunan Kabinet Kerja Jilid 2, Ini Respons Istana Nah, grup WA atau WhatsApp yang hanya ditenggarai menjadi wadah penyebar hoax dan ujaran kebencian dilakukan pengawasan atau monitor.

Petugas siber memiliki cara tersendiri untuk mengawasi percakapan di dalam grup WA yang disinyalir menjadi ruang propoganda. "Tidak ada pelanggaran apapun karena fungsi kami mencegah." "Kami pun tidak sembarang memantau grup WA percakapan, harus ada laporan dari masyarakat dulu," ujarnya.

Lebih lanjut, kegiatan patroli siber sudah dilakukan sejak masa Pilpres 2019 kemarin. Petugas memantau ruang-ruang grup WA percakapan yang diduga menjadi tempat penyebaran informasi provokatif dan hoaks. Pihaknya mengimbau agar masyarakat lebih jeli menerima informasi dari media sosial, terutama pesan yang disampaikan di WhatsApp, bukan dari media massa yang terverifikasi oleh Dewan Pers.

Sebab, peredaran informasi hoaks dan ujaran kebencian sangat massif beredar di ruang-ruang media sosial seperti di antaranya grup WA, WhatsApp. Nah, Kepolisian bakal menindak tegas bagi pelaku-pelaku penyebar informasi hoaks dan ujaran kebencian. "Pasti akan diberi sanksi tegas, makanya bijak dalam menyebar luaskan informasi," tutur Kapolres Bontang,

Kalimantan Timur ini. Teliti dan pelajari sebelum menyebarluaskan informasi yang belum diketahui kebenaranya," pungkasnya. Anak Muda Mesti Bijak Media Sosial Sisi lainnya, pemberitaan sebelumnya yang ditayang dalam Tribunnews.com soal bijak media sosial. Mengutip dari Tribunnews.com, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti dihadapan ratusan anak muda.

Yang menjadi peserta dalam kegiatan Forum Sosialisasi Pemilihan Umum mengingatkan. Agar generasi milenial bijak dalam menggunakan media sosial, terutama di tengah tahun politik. Niken menegaskan, masa depan anak-anak muda Indonesia. Saat ini berada di jari-jari mereka dalam menggunakan media sosial.

Perlu diketahui oleh seluruh anak muda di Indonesia. Saat ini kalau hendak mencari kerja, baik di swasta maupun pemerintahan. Rekam jejak digital akan menjadi salah satu pertimbangan. Maka berhati-hatilah menggunakan jari-jari dalam bermedia sosia,” himbau Niken, Jumat (1/3/2019). Niken menjelaskan, kendati sudah dihapus di masing-masing akun media sosial.

Seperti Facebook dan Twitter, rekam jejak digital tidak akan pernah terhapus secara utuh. Melalui teknologi bernama Artifisial Intelligent System (AIS). Semua riwayat atau rekam jejak digital per akun akan tetap terekam. Ketika sudah ikut tes tertulis (lamaran kerja), terakhir kita akan melihat rekam jejak digital ini.

Kalau dari rekam jejak digital ini para pencari kerja ditemukan terbiasa membuat "Atau mengeshare informasi hoax dan ujaran kebencian maka dipastikan tidak akan diterima,” tegas Niken. Pada kesempatan itu ia juga membeberkan. Pemerintah bekerja sepanjang waktu untuk melakukan tracking dan deteksi informasi hoax dan konten negatif.

Kendati sudah bekerja keras, Niken mengakui penyebar berita hoax sangat canggih dalam bekerja. Satu menit saja luput dari blokiran, langsung tersebar luas dan viral. Namun melalui sistem yang dimiliki saat ini, pemerintah bisa mendeteksi siapa penyebar berita hoax pertama. Dan melakukan pemblokiran jika ada laporan yang masuk ke pihaknya. Untuk memblokir akun itu ada mekanismenya, harus ada laporan dari masyarakat.

Untuk itu, silakan masyarakat jika mendapat informasi yang tidak jelas. Isinya caci maki. "Silakan adukan ke konten aduan di website Kemenkominfo,” pesan Niken. Melalui kegiatan ini, Niken juga berpesan agar anak-anak muda ikut berpartisipasi aktif dalam Pemilu sebagai pemilih yang cerdas. Rapper tanah air Igor “Saykoji” juga memiliki pesan khusus bagi anak-anak muda agar menjadi pemilih cerdas dalam Pemilu Serentak 2019.

Kuncinya adalah untuk menjadi pemilih yang cerdas, anak muda harus “aware” dengan politik. Kalau kita kepengin Indonesia jadi lebih baik, kalau care dengan Indonesia. "Kita harus optimis, jangan apatis. Ayo memilih ( Pemilu 2019), karena masa depan Indonesia ada di tangan kita semua,” ujar Igor.